<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0"
 xmlns:blogChannel="http://backend.userland.com/blogChannelModule"
>

<channel>
<title>J.H. Wenas</title>
<link>http://jhwenas.multiply.com/</link>
<description></description>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 12:26:26 -0000</pubDate>
<lastBuildDate>Tue, 29 Aug 2006 08:23:25 -0000</lastBuildDate>

<image>
<title>J.H. Wenas</title>
<url>http://images.jhwenas.multiply.com/logo</url>
<link>http://jhwenas.multiply.com</link>
<width>100</width>
<height>100</height>
</image>

<item>
<title>Nederlandsche Handel-Maatschappij</title>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/photos/album/6/Nederlandsche_Handel-Maatschappij</guid>
<pubDate>Tue, 29 Aug 2006 08:23:25 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Pertapaan Cistercian di Gedono</title>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/photos/album/5/Pertapaan_Cistercian_di_Gedono</guid>
<pubDate>Mon, 29 May 2006 05:33:11 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Sikap Politik Jakarta</title>
<description>&#x3C;P align=left&#x3E;SEKALIPUN kadar mitologis masih mewarnai perdebatan para sejarawan hingga hari ini, peristiwa 22 Juni 1527 tetap dikenang sebagai sejarah lahirnya kota Jakarta. Pada tanggal itu Fatahillah merebut bandar Sunda Kelapa dari tangan Portugis. &#x3C;BR&#x3E;&#x3C;BR&#x3E;Fatahillah kemudian mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, konon artinya kemenangan akhir. Rupanya harapan ini tidak terwujud, sebab pada tanggal 30 Mei 1619, Jan Pieterszoon Coen membumihanguskan Jayakarta serta visinitasnya, lalu di atas puing-puingnya dibangun kota bernama Batavia. Selama kira-kira tiga abad Batavia membangun peradabannya, hingga pasukan Jepang masuk pada tahun 1942. Nama Batavia diubah lagi, menjadi Jakarta, dan di tahun 1945 fungsinya menjadi ibukota Republik Indonesia. &#x3C;BR&#x3E;&#x3C;BR&#x3E;Memang genesis Jakarta adalah kota bandar yang harus menyediakan berbagai fungsi yang menunjang mobilitas barang, jasa serta manusia. Walaupun sekarang bandar Sunda Kelapa masih beroperasi, faktanya Jakarta hari ini bukan Sunda Kelapa. &#x3C;I&#x3E;It is far beyond just...</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/journal/item/13/Sikap_Politik_Jakarta</guid>
<pubDate>Fri, 31 Mar 2006 01:34:24 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Identitas Politik Islam di Hindia Belanda</title>
<description>&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: left&#x22; align=left&#x3E;November 1922, masih dalam suasana &#x3C;I&#x3E;New Economic Policy&#x3C;/I&#x3E; gaya Vladimir Ilyich Lenin, Moskow menggelar Kongres Komintern ke-4. Intinya, perjuangan proletariat internasional perlu bekerja sama dengan gerakan-gerakan lain sedunia. Trotsky bicara, begitu pula tokoh-tokoh Komunis lainnya seperti Radek, Bucharin dan Lumantjarski. Tak ketinggalan pemuda nekad asal Indonesia, namanya Tan Malaka. Pidatonya dalam bahasa Jerman menggagas pentingnya Komunisme berkonspirasi dengan gerakan Islam di hemisfir Timur.&#x3C;BR&#x3E;&#x3C;BR&#x3E;Tentu, bukannya Tan Malaka tak sadar bila sejak Kongres Sarekat Islam ke-6, Oktober 1921, garis politiknya bersama Semaun sudah patah arang dengan poros Agus Salim-Abdul Muis. Tapi ia rupanya yakin ada titik temu mengingat kerap kali umpatan &#x3C;I&#x3E;&#x201C;het zondige kapitalisme&#x201D; &#x3C;/I&#x3E;(kapitalisme berdosa) dilontarkan kedua ulama besar itu&#x2014; walaupun kurang jelas juga bagaimana &#x3C;I&#x3E;&#x201C;het heilige kapitalisme&#x201C;&#x3C;/I&#x3E; (kapitalisme suci) mau diberi makna. Selain itu, ia tahu bila visi Agus Salim memang memuat semangat Pan-Isla...</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/journal/item/11/Identitas_Politik_Islam_di_Hindia_Belanda</guid>
<pubDate>Tue, 7 Feb 2006 05:00:33 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Jihad for Civilizations</title>
<description>&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: left; &#x22; align=&#x22;left&#x22;&#x3E;&#x3C;b&#x3E;Tel Aviv, 1 August 2002:&#x3C;/b&#x3E; I finally got my back laid on a chair in the Ben Gurion&#x2019;s smoking room. Before I could breathe in my own pollution, it took me a little more than two hours to leave behind the entire airport&#x2019;s chain of checkpoints&#x2014; begun by laying myself bare in the car park entrance way out there. Even now all passengers sitting in the large hall caught sight of a squad of IDF (Israel Defense Forces), equipped with a 9mm Uzi, watching over.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Understandable, for all that. Just yesterday, another bombing gutted the cafeteria of Hebrew University at Mt. Scopus in Jerusalem. I sneered at myself for being so lucky, insofar as it went off exactly where I had my lunch meal in the preceding week. The bombing took 9 lives, 4 Israelis and 5 foreign nationals; 85 injured, 14 of them seriously. [&#x3C;i&#x3E;Until Dec. 4 2002, the IDF statistics indicate there have been 15,557 attacks since September 2000; broken down into 7,040 in the West Bank, 7,872 in the Gaza Strip and 645 in the Home Front&#x3C;/i&#x3E;]&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Ze&#x2019;evi,...</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/journal/item/10/Jihad_for_Civilizations</guid>
<pubDate>Tue, 7 Feb 2006 04:47:48 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Aspirasi Politik Nahdliyin</title>
<description>&#x3C;p&#x3E;Gus Dur dalam &#x3C;i&#x3E;tausyiah&#x3C;/i&#x3E;-nya pada kesempatan Haflah Ihtitamidurrus, sekaligus perayaan hari jadi ke-48 Pondok Pesantren Al Ishlahiyah, di Kecamatan Singosari, Malang, Jawa Timur, hari Minggu lalu (12/10) mengungkapkan satu hal penting. Seperti dikutip oleh &#x3C;em&#x3E;www.gusdur.net &#x3C;/em&#x3E;(13/10), intinya Ketua Umum Dewan Syura PKB ini menyatakan bahwa pada Pemilu 2004 nanti PKB akan lebih dikonsentrasikan untuk mencari massa pendukung dari luar Pulau Jawa.&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Gus Dur bahkan spesifik mengemukakan strateginya, yaitu dengan cara berkeliling di luar pulau Jawa. Dengan cara ini ia menargetkan perbandingan pendukung dari luar Jawa dua kali lipat dari pendukung di pulau Jawa, sehingga komposisinya menjadi 2:1. &#x201C;Untuk Pemilu kali ini saya tidak akan terlalu mengurusi pendukung di Pulau Jawa karena pencarian massa di sini sudah cukup dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya,&#x22; begitu kata Gus Dur.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Dalam bahasa &#x3C;i&#x3E;marketing&#x3C;/i&#x3E; (pemasaran) Gus Dur tengah melakukan diversifikasi dan segmentasi &#x201C;pasar politik&#x201D; PKB kepada para &#x201C;pem...</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/journal/item/5/Aspirasi_Politik_Nahdliyin</guid>
<pubDate>Thu, 2 Feb 2006 02:04:22 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Dibalik Kunjungan Menlu Jack Straw</title>
<description>&#x3C;p&#x3E;Pada minggu ketiga Oktober 2002, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Muzadi pergi ke London bertemu Menlu Jack Straw. Dan pada tanggal 9 Januari lalu, &#x3C;i&#x3E;en route&#x3C;/i&#x3E; kunjungan resminya ke Jakarta, gantian Menlu Jack Straw menemui Kiai Hasyim. Didampingi Menlu RI Hassan Wirajuda, ia mampir ke kantor PBNU terlebih dahulu sebelum bertemu Presiden Megawati Soekarnoputri.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Di kantor PBNU, Kiai Hasyim tak menyambut sendirian. Dalam bungkusan dialog berjudul &#x3C;i&#x3E;The United Kingdom and the Muslim World&#x3C;/i&#x3E; itu, ia melibatkan tokoh-tokoh seperti Ketua Umum Muhammadiyah Prof Dr Syafii Maarif, Ketua Umum KWI Julius Kardinal Darmaatmadja, Ketua Umum PK Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum PKB Dr Alwi Shihab, Sekjen MUI Dr Din Syamsudin, Mantan Menlu Roeslan Abdulgani, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar, juga para ekonom seperti Dr Sjahrir dan Dr Anwar Nasution, selain banyak &#x201C;pemancing-berita&#x201D; lainnya. Sayang, Gus Dur yang ditunggu kehadirannya, berhalangan, karena masih berada di luar kota.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Secara umum, keseluruhan ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/journal/item/4/Dibalik_Kunjungan_Menlu_Jack_Straw</guid>
<pubDate>Thu, 2 Feb 2006 01:27:06 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Abdurrahman Wahid</title>
<description>Kita sudah tidak lagi dipimpin oleh tokoh-tokoh pelaksana yang memiliki kemampuan menggabungkan yang struktural dan kultural&#x2014; Abdurrahman Wahid, Desember 2004</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/links/item/2/Abdurrahman_Wahid</guid>
<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 03:25:17 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Sarwono Kusumaatmadja</title>
<description>Orang banyak tidak terlalu menyoal siapa dan partai mana yang berperan dalam perubahan ini. Yang jelas, siapa saja yang melakukan lompatan jauh mendekati suasana batin masyarakat dan mendahulukan perbuatan akan mendapat peluang &#x2014; Sarwono Kusumaatmadja, Desember</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/links/item/1/Sarwono_Kusumaatmadja</guid>
<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 03:19:14 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Solidaritas Pro Tempore</title>
<description>SELAMA dekade 1990-an, Amerika Serikat (AS) cenderung memprioritaskan agenda non-militer dan nontradisional dalam politik globalnya, terutama dalam hal penyebaran demokrasi, hak asasi manusia, penanganan ancaman lintas-batas (&#x3C;i&#x3E;transnational threats&#x3C;/i&#x3E;) dan lingkungan hidup. Dengan demikian hampir satu dekade lamanya sejak bubarnya Uni Soviet di tahun 1991, publik AS hidup dalam keadaan relatif damai, dan cenderung &#x3C;i&#x3E;inward looking&#x3C;/i&#x3E;. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Oleh karena itu, bisa dimengerti bila pasca tragedi 11 September 2001 (sering disebut 911), mayoritas rakyat AS merasa Bush adalah orang yang tepat untuk memberi tahu mereka &#x3C;i&#x3E;outward looking&#x3C;/i&#x3E; seperti apa yang diperlukan untuk menjawab segala implikasi tantangan dalam doktrin &#x3C;i&#x3E;global security&#x3C;/i&#x3E;. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Semuanya berubah melalui sebentuk solidaritas, tatkala media massa menyoroti kehancuran dan kematian sekitar 4.000 saudara mereka di bawah puing-puing menara kembar World Trade Center maupun Pentagon. Ini merupakan jumlah kematian serentak terbesar di tanah AS sejak panglima kau...</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/journal/item/3/Solidaritas_Pro_Tempore</guid>
<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 01:16:17 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>The N.O. Fear Factor</title>
<description>BUZZING around the lips of Indonesians these last weeks over one name: Tutut (54). For the &#x3C;i&#x3E;kshatriya&#x3C;/i&#x3E;, she seems to have been hovering between what is perceived and seen; the &#x3C;i&#x3E;vaishya&#x3C;/i&#x3E; see her&#x26;nbsp;as a phenomenon more virtual than actual; most of the &#x3C;i&#x3E;shudra&#x3C;/i&#x3E; do not give a damn; the &#x3C;i&#x3E;brahman&#x3C;/i&#x3E;, as usual, divide into three, the worldly, the otherworldly and those comfortable in between.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;It all started when officials of the Activities of National Concern Party, or Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) on Wednesday (3/12) gathered at their headquarters in Menteng, Jakarta&#x2019;s dearest residential district, to enunciate their support for the super-rich woman being presidential candidate for next year&#x2019;s election&#x2014;by the time Indonesia will have its first ever direct presidential election over two stages, in July and September. PKPB was established by former Army chief Gen. (ret.) Raden Hartono, an unfaltering Soeharto&#x2019;s prot&#xE9;g&#xE9;, at the behest of the godfather himself about three years ago.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;What is in it for...</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/journal/item/2/The_N.O._Fear_Factor</guid>
<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 01:09:29 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Syekh Siti Jenar</title>
<description>DUNIA baru saja menyaksikan demoralisasi peradaban dibalik perang Vietnam, pada paruh pertama dekade 1970-an seorang muda dari Jepang bernama Daisaku Ikeda mengunjungi Arnold Toynbee di Inggris. Yang pertama adalah tokoh Soka Gakkai; yang terakhir adalah raksasa pikir sejarah peradaban dunia. Toynbee telah renta pada saat perjumpaan timur-barat itu, dan tutup usia tak lama kemudian, 1975. Mereka berdialog. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;b&#x3E;Toynbee:&#x3C;/b&#x3E; &#x3C;i&#x3E;Saya yakin bahwa gaya suatu peradaban adalah perwujudan dari agamanya. Saya amat setuju bahwa agama telah menjadi sumber vitalitas yang telah menyebabkan kehadiran peradaban di dunia dan telah mempertahankan kehadirannya&#x2014;selama lebih dari tiga ribu tahun dalam kasus-kasus Mesir zaman Fir&#x2019;aun dan Cina sejak bangkitnya dinasti Shang dan jatuhnya dinasti Ching pada tahun 1912&#x2026; Setiap kali suatu bangsa kehilangan keimanan pada agamanya, peradabannya pasti runtuh oleh perpecahan sosial domestik dan serangan militer asing&#x2026; &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Contoh-contoh fenomena historis adalahnya jatuhnya peradab...</description>
<guid isPermaLink="true">http://jhwenas.multiply.com/journal/item/1/Syekh_Siti_Jenar</guid>
<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 00:52:23 -0000</pubDate>
</item>

</channel>
</rss>